Saturday, January 21, 2006

AKU LAGI

Aku mulai tahu, Allah itu bener2 sayang sama kita semua. Beneran lo...bukan kata2 anak kecil doang itu mah. selama ini apa sih yang nggak dia kasih buat kita? kita yang suka celelekan dan nyepelein Dia aja masih dikasih hidup. belom lagi kita minta ini minta itu. minta tolong, minta duit, minta seneng...cih banyak bgt pmintaan manusia mah.
Allah yang Maha Segala-galanya tuh emang baiiiiiiiiiiiik bgt. coba yah...kita tetep aja dikasih sama Dia semua yang kita minta. dan tentunya klo nggak dikabulin juga buat kebaikan kita. tul gak? sayangnya gak banyak dari kita yang suka bsyukur. penginnya kurang aja....

Tuesday, January 10, 2006

Horor itu...


“Asni, tahu nggak? Sekolah kita ini angker lho.” kata Sita padaku suatu hari.
“Memangnya…angker apaan sih? Nama penyakit yah? Angker ulit, angker otak, angker andungan…” kataku menggodanya.
“Itu sih Kanker. Serius dong.” kataku sewot, “Kemarin kan Eva anak kelas 2 Koperasi itu, kerasukan.” sambungnya dengan nada penuh kesungguhan. Mau tak mau aku pun harus ikut bersungguh-sungguh. Apalagi setelah mendengar apa yang baru saja dikatakannya.
“Ah…yang bener? Kapan?” tanyaku serius, sambil mendekat padanya.
“Kemarin abis pulang sekolah. Jadi kamu bener-bener nggak tahu yah?” tanyanya padaku. Aku hanya menggelengkan kepala dan terus memfokuskan diri padanya, “Emang gimana ceritanya?” tanyaku kemudian.
“Ceritanya kemarin Eva berangkat ke sekolah pagi banget. Waktu belum ada banyak orang gitu deh. Kira-kira jam 6.” katanya mengawali cerita.
“Terus?” tanyaku sambil mengernyitkan dahi tak sabar.
“Jadi, waktu itu kan masih sepi banget. Baru ada dia sendiri. Terus, dia nggak jalan lewat pintu barat kaya biasanya. Dia milih lewat pintu timur.” katanya kembali bercerita.
“Kenapa?”
“Nggak tahu juga sih.”
Dia baru saja akan membuka mulut untuk melanjutkan ceritanya saat tiba-tiba aku teringat sesuatu dan segera menyelanya.
“Stop…stop…! By the way, itu berarti dia lewat depan kelas kita dong?” tanyaku makin penasaran.
“Iya. Terus katanya waktu lewat depan kelas ini, suasananya jadi mistis. Ada bau wangi terus tiba-tiba saja bulu kuduknya berdiri.”
“Terus…terus…” aku mulai antusias.
“Mmm…dia kan punya six sense, waktu dia lewat tepat di depan pintu kelas, dia lihat ada cewek seumuran kita pakai baju seragam lengkap and senyum ke dia.” katanya sambil mendekapkan tangan pada badannya sendiri, “Ih serem deh.” lanjutnya.
“Ah…mungkin itu cuman temen kita saja.” kataku mencoba menyangkal.
“Katanya sih bukan. Soalnya…” kata Sita sambil menggerakkan matanya ke seluruh bagian ruang kelas, “Kakinya melayang.” lanjutnya.
Aku mulai ketakutan. Kuputarkan pandangan mataku ke seluruh ruang kelas. Ruangan yang awalnya biasa-biasa saja, kini terasa begitu mistis. Aku mulai terbayang-bayang pada acara televisi yang belakangan ini mulai latah dengan tema-tema horor. Dalam bayanganku gambar presiden dan wakil presiden tiba-tiba mengeluarkan darah, wayang Arjuna yang tergantung di dinding tiba-tiba menjadi monster yang menyeringai dan melayang ke arahku, semua hiasan yang tergantung tiba-tiba bergerak dan terjatuh. Aku dan Sita terdiam. Pandangan mata kami bertemu. Aku segera beranjak dari tempat dudukku, begitu pula Sita. Kami segera berlari keluar kelas. Ketakutan.
Ya, waktu itu kami sedang duduk berdua di kelas. Kompleks utama sekolahku telah sepi. Seluruh kegiatan ekstrakurikuler telah berakhir dan semua siswa telah kembali ke rumahnya masing-masing. Begitupula teman-teman yang baru saja mengikuti ekstrakulikuler bola volley. Pak Yadi, penjaga sekolah sekaligus ‘Pak Kantin’ kami yang biasanya mondar-mandir telah selesai mengerjakan tugasnya. Beliau telah mengambil semua gelas dan minuman serta mengunci semua ruangan penting. Di dekat masjid masih ada beberapa orang bermain tenis. Sayang tempat itu jauh dari kelas kami. Suasana sepanjang koridor benar-benar sepi hingga derap langkah kami terdengar begitu jelas.
Kami memutuskan untuk mengobrol di depan pintu gerbang timur yang biasa dipakai para siswa atau orang-orang lewat menunggu jemputan. Sambil menunggu kami memutuskan untuk melanjutkan cerita kami yang terputus.
Dari cerita Sita aku tahu kemarin Eva sempat berteriak-teriak di ruang UKS. Hanya anak-anak yang mengikuti Tonti (pleton inti) saja yang mengetahuinya.
Masih dari cerita Sita, Eva kerasukan hantu cewek penghuni kelasku. Mungkin hantu itulah yang dilihatnya pagi hari sebelum ia kerasukan. Konon, dia hantu salah satu siswa sekolah kami yang mati tertabrak bus besar di daerah Prambanan beberapa tahun silam. Naas memang, Dia belum sempat pergi ke sekolah. Sebelum dia sempat mendapatkan bus yang biasa mengantarnya, bus besar terlebih dahulu merenggut nyawanya. Konon, arwahnyalah yang kemudian datang ke sekolah dan mendiami kelasku, yang dulu kelasnya juga. Cerita ini juga pernah kudengar dari sepupuku yang dulu bersekolah di sana.
Kelasku terletak di sebelah timur, bersebelahan dengan deretan ruang kelas 2 yang lain. Koridor kelasku tidak sama dengan kelas-kelas yang lain. Bagian depan yang menghadap ke selatan tertutup oleh kamar mandi yang menghadap ke barat. Ada pintu yang mengarah ke koridor panjang antara kelas dan kamar mandi itu. Bagian kiri kelasku sama saja keadaannya. Cahaya matahari tak dapat masuk karena terhalangi bangunan laboratorium komputer dan laboratorium sekretaris. Kelas kami makin terkenal sebagai kelas tergelap. Hal itu menambah kesan angker dan sangar kelas kami. Apalagi dibarengi dengan isu hantu cewek yang menghuni kelas itu.
Isu seputar hantu itu nampaknya telah menyebar di sekolah kami. Bahkan guru kami pun telah menceritakannya pada kami, tepatnya saat beliau melihat teman kami yang melamun saat beliau mengucapkan salam. Entah cerita itu adalah sebuah kenyataan atau hanya intermezo-nya belaka, agar kami terbiasa menjawab salam. Yang jelas isu itu semakin santer saja.
Sebenarnya, bukan hanya kelas kami yang terkenal angker. Mungkin seantero sekolah kami memang angker. Sepupuku pernah bercerita begini. Suatu saat, ROHIS akan mengadakan acara peringatan hari besar agama. Mereka menginap di sekolah selama semalam untuk menyiapkan dekorasi panggungnya. Salah seorang anggota duduk mendengarkan siaran radio saat anggota yang lain sibuk menata dan menempel huruf pada background aula. Tepat pukul 24.10 radio tiba-tiba saja off. Tak selang berapa lama, radio itu on lagi. Off…on…begitulah yang terjadi berulang-ulang hingga anggota itu lari ketakutan.
Pernah juga saudaraku itu bercerita tentang hantu yang menghuni pohon besar di pinggir lapangan olahraga, di ujung barat sekolah kami. Konon hantu itu berasal dari sebuah pohon beringin besar di perempatan dusun dekat sekolah kami. Ternyata…hantu juga bisa pindahan to?
***
Suatu hari aku berkenalan dengan seorang teman yang biasa bermain bulutangkis di sekolah pada malam hari. Namanya Ahmad. Dia dan teman-temannya harus menyewa ruang untuk dapat bermain di sana. Suatu hari…
“Asni, tahu nggak?”
“Tentang apa?”
“Sekolahmu itu ada hantunya lho.” katanya. Aduh…lagi-lagi soal hantu.
“Itu lho, di kamar mandi sebelah timur lapangan.”
Darinya kudengar bahwa salah satu temannya pernah melihat penampakan di sana. Ih…serem!!
Awalnya kupikir kamar mandi di sebelah timur lapangan bola basket yang dimaksudkan olehnya. Padahal, setahuku kamar mandi itu justru paling ‘aman’. Aku pun mulai berpikir tentang kamar mandi di pojok barat-selatan. Kamar mandi itu memang berada di sebelah timur lapangan badminton. Maklumlah, kami tidak pernah menyebutnya sebagai lapangan badminton. Sebenarnya ruangan itu adalah sebuah aula terbuka yang multifungsi.
Kamar mandi di sebelah timur lapangan itu memang gelap, lembab dan menakutkan. Ah… bukan hanya kamar mandi itu yang menakutkan. Semua kamar mandi di sekolahku memang menakutkan. Jumlah keseluruhan kamar mandi di sekolahku ada empat blok. Tiga blok ada di lantai bawah dan satu blok di lantai atas. Kalau ditanya jumlah biliknya, aku tak mau pusing-pusing menghitungnya. Yang jelas, tempat-tempat itu memang dianggap angker oleh warga sekolah kami. Wajar saja, bukannya kamar mandi itu memang rumah setan?
Aku sendiri tidak mau ambil pusing dengan hal itu. Kata Ayah, setan itu ada di mana-mana. Kalau kita tidak mengusiknya, untuk apa mereka mengusik kita? Jadi intinya…toleransi antara manusia dengan hantu gitu deh (hehehe…). Walaupun begitu, aku tidak menampik keyakinan bahwa mereka ada. Selama ini aku sendiri punya pengalaman dengan yang namanya hantu. Tapi cerita itu hanya kusimpan sendiri sebagai bumbu dari masa kecilku. Mungkin suatu saat aku juga bisa menuliskannya dalam bentuk cerita.
Aku tak mau terlalu mendramatisir kejadian itu hingga membuatku ketakutan. Begitu pula saat teman-temanku tak berani menyambangi kamar mandi di pojok barat lantai atas, kubuktikan bahwa tak ada apa-apa di sana. Kumasuki ruangan itu sendirian dan aku pun masih utuh sampai sekarang. Bukannya sok berani, aku hanya ingin menunjukkan bahwa bukan mereka yang perlu ditakuti, tapi Tuhan yang telah menciptakan mereka.
Suatu sore aku mengikuti Persami
1 di sekolah. Antrian untuk mandi panjang sekali. Aku yang biasa mandi di kamar mandi guru, akhirnya harus memilih kamar mandi di pojok atas itu. Saat aku baru saja datang ke sana, tiba-tiba…
”Asni, aku takut banget,” kata seorang teman dari kelas lain yang aku sendiri lupa namanya.
“Emang kenapa?” tanyaku padanya.
“Masa’ tadi krannya hidup sendiri.” katanya mulai ketakutan.
“Ah…kendho
2 kali.”
“Nggak! Coba deh periksa.” katanya masih terlihat cemas.
Kubuka pintu bilik itu. Tak setetespun air keluar dari kran. Lalu aku pun mandi di sana dan tak terjadi apa-apa padaku.
“Ah…horor itu cuman mimpi.” kataku kemudian sambil melihatnya berlalu.
Lain lagi cerita yang dialami Bu Nanik, salah seorang guru di sekolahku. Tapi, ini pun hanya cerita temanku. Katanya, beliau pernah terkunci di kamar mandi guru selama ± 2 jam dan tak seorang pun mendengar teriakkannya. Entah kenapa. Pintu kamar mandi baru terbuka dengan sendirinya setelah beliau pingsan. Kejadian apa yang terjadi di dalam kamar mandi, sampai sekarang tak ada seorang pun yang tahu.
***
Kini aku sedang duduk di depan mesin ketik manual di laboratorium mengetik. Aku memanfaatkan dua jam mata diklat mengetikku untuk mengerjakan Art Typing. Aku mencoba membuat gambar dua orang sedang bermain basket dengan mesin ketik itu.
TING…TONG…!!!
Bel 3 × tanda waktu pulang berbunyi. Aku segera menyelesaikan pekerjaanku, mengembalikan mesin ketik dan kursi pada posisi semula yang rapi. Lalu aku berlari menuruni tangga menuju kelasku, dan bergegas pulang. Tak sampai setengah jam, aku kembali ke sekolah sambil membawa baju ganti dan alat-alat dekorasi. Di lobby, kulihat Shifa dan Deka telah berkumpul bersama teman-teman lainnya. Kami segera bekerja membuat huruf dan hiasan yang akan ditempelkan pada background aula. Persiapan ini kami lakukan untuk menyambut para pelajar dari Australia yang akan bertukar kebudayaan dengan Indonesia.
Pukul 21.00 kami telah berkumpul di aula. Kami mulai menempelkan huruf-huruf dengan rapi serta memasang berbagai hiasan. Tepat pukul 23.15 kami dapat menyelesaikan pekerjaan itu. Dengan segera kami terkapar di masjid karena kelelahan.
Jam menunjukkan pukul 00.15. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Oh my God! Novel ‘Gadis Jakarta’ karya Najib Kaelani-ku tertinggal di aula. Padahal…novel itu hanya capjam alias cap pinjaman. Akhirnya, kuputuskan untuk mengambilnya.
“Asni mau kemana?” tanya Deka mengagetkanku.
“Mau ke aula. Ambil buku, ketinggalan.” jawabku. Deka menggeliat sebentar, duduk dan mengucek-ucek matanya.
“Mau diantar nggak?” tanyanya sambil menguap.
“Nggak usah deh, makasih.” kataku sok gentle. Padahal sebenarnya aku takut juga.
Deka kembali berbaring dan aku pun beranjak menuju aula. Sampai di sana kudapati buku itu ada di mimbar kecil yang biasa dipakai untuk memberikan sambutan. Segera kuambil buku itu.
Tiba-tiba saja aku teringat cerita Ahmad tentang penampakan yang dilihat temannya di kamar mandi. Kuarahkan pandanganku ke kamar mandi itu. Gelap.
GRKKK!!!
Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Aku segera teringat hantu yang merasuki tubuh Eva. Kulangkahkan kakiku meninggalkan aula, kembali menuju masjid. Saat melewati lapangan basket…
DUK…DUK…DUK…!!!
Kulihat dua orang perempuan bermain basket. Seorang men-drouble bola dan yang lain mencoba merebutnya.
“Aneh…” pikirku,” lewat jam 12 malem masih ada yang main basket?”
Kukucek mata dan kulihat lagi. Mereka masih ada di tengah lapangan. Salah seorang melihat dan berlari ke arahku. Jantungku berdetak tak menentu.
“Ayo gabung.” katanya seraya meraih tanganku, lalu menarikku ke tengah lapangan. Aku tak sempat menolak.
Kini aku telah berdiri di depan ring,di tempat ‘tembakan 3 angka’, bersama kedua perempuan itu. Seorang dari mereka melemparkan bola yang dipegangnya padaku. Aku pun men-drouble bola itu. Mereka mencoba merebutnya dariku.
Kami asyik sekali malam itu, hingga aku tak memikirkan lagi keganjalan-keganjalan yang terjadi di lapangan. Lampu yang menerangi lapangan itu…tak mungkin mereka pasang hanya dalam beberapa menit, selama aku berada di aula. Apalagi memikirkan tentang permainan bola basket yang kulakukan hingga hampir jam 2 malam itu. Aku tak peduli lagi. Aku terlena dengan permainan seru kami.
Kedua perempuan itu terus mencoba merebut bola dariku. Kulakukan pivot agar mereka tidak bisa merebutnya dariku. Lalu aku drouble bola menuju ring basket. Kuakhiri langkahku dengan lay up dan bola pun memasuki ring dengan indah.
POK…POK…POK…!!!
Suara tepuk tangan menggema di lapangan. Aku berdiri terpaku tak percaya. Jantungku berdetak kencang sekali. Keadaan yang tadinya terang kini kembali gelap. Lampu-lampu yang meneranginya beberapa waktu yang lalu telah hilang. Begitu pula kedua perempuan yang bermain basket bersamaku.
DUK…DUK…DUK…!!!
Kini aku berdiri membelakangi ring basket. Bola basket yang berhasil kumasukan ke dalamnya kini masih memantul setelah berbenturan dengan lantai. Aku masih terpaku dan terpana. Jantungku berdetak semakin cepat. Keringat dingin bercucuran, bukan karena aku baru saja berolahraga, namun karena aku ketakutan setengah mati.
Kulihat…mungkin 20, 40, 80…jumlah sosok tubuh di pinggir lapangan itu terus bertambah. Pakaian mereka serba putih dan….tak ada wajah. Aku yakin sekali. Walaupun hari itu gelap sekali, tapi aku benar-benar yakin bahwa tak ada wajah…mungkin bukan wajah. Lebih tepatnya tak ada hidung… mulut… mata dan bagian apapun di kulit yang putih seputih kapas itu. Dan aku semakin ketakutan saat melihat kaki mereka yang tak menyentuh tanah. Persis seperti cerita Sita tentang hantu yang dilihat Eva. Kain putih yang menutupi kaki itu hanya melayang, sedikit sekali menyentuh tanah. Mereka terus bertepuk tangan dan tertawa. Kukucek mataku. Aku benar-benar tak melihat ada mulut pada tubuh mereka. Namun…suara tawa mereka terdengar sangat jelas.
Tiba-tiba saja muncul dua titik cahaya di kulit (tempat wajah mereka seharusnya) itu. Cahaya itu berwarna merah menyala. Satu persatu dari mereka mulai bergerak mendekatiku. Mereka terus mendekat dan berputar mengelilingiku. Aku semakin ketakutan. Mereka terus menghimpit dan membuatku sesak. Aku benar-benar ketakutan. Lalu semua gelap. Aku tak tahu apa-apa lagi.
***
“Asni…Asni…kamu kenapa?”
Aku pun tergagap, terbangun dari tidurku. Aku terpana melihat Sita masih duduk di depanku.
“Kamu kenapa sih? Sok alim banget. Tidur saja pake baca ayat Qursy segala. Lagian….tega banget sih, aku kan lagi cerita. Malah ditinggal tidur lagi!”
Sita masih saja memarahiku, sedangkan aku sibuk dengan syukurku. Untung horor itu benar-benar hanya mimpi.
Jogjakarta, 20 Maret 2005
Hand_shaoran
1 Perkemahan Sabtu-Minggu
2 tidak kencang

Ayah...


Punya empat orang anak perempuan tentu menjadi suatu anugerah, sekaligus beban berat buat Ayah. Kenapa? Karena itu berarti ayah harus menanggung enam orang perempuan di rumah. Ibuku, aku, ketiga kakakku dan Simbahku. Tahu sendiri kan? Yang namanya perempuan itu musti dijaga baik-baik agar menjadi baik. Istilahnya, perempuan itu terbuat dari tulang rusuk laki-laki yang bengkok. Jadi, musti diluruskan dengan sangat hati-hati. Terlalu dipaksa akan patah, namun jika dibiarkan akan terus bengkok. Itu mungkin yang menjadi beban bagi Ayah.
Mungkin, beban berat itu juga yang membuat Ayah bersikap sangat protektif pada kami (baca:aku). Maka tak ada satu pun dari kami yang bisa memanjat pohon (padahal tak sedikit pula teman-teman sesama cewek yang pandai memanjat pohon waktu itu). Aku sendiri baru bisa naik sepeda setelah berada di kelas 3 sekolah dasar. Padahal teman-temanku yang lain sudah pandai bersepeda sejak masih berada di bangku taman kanak-kanak. Untuk bisa menaikinya hingga jalan raya pun, aku musti menunggu hingga SMP. Apalagi setelah aku bisa naik motor. Untuk bisa naik motor ke jalan raya aku musti mencuri-curi kesempatan saat Ayah tidak mengetahuinya.
Bisa dibilang Ayah adalah musuh masa kecilk. Yup! Dia sangat keras terhadap kami (aku). Mungkin karena aku adalah anak paling nakal di antara saudara-saudaraku. Aku punya pikiran paling kritis yang kadang justru membahayakan diriku sendiri. Maka, saat masih kecil kata “aku benci ayah” sering kutuliskan di dalam kertas dengan huruf yang masih lugu dan berantakan.
Saat mendengar aku menangis, Ayah akan sangat marah. Semakin keras aku menangis, semakin marah ia. Mungkin ini karena naluri kelaki-lakian Ayah yang benci terhadap kata lemah. Atau mungkin Ayah ingin kami semua menjadi wanita yang kuat dan tidak mudah dilecehkan, mampu membela diri kami sendiri. Entahlah, yang pasti aku yakin Ayah punya tujuan yang baik pada kami. Walaupun aku membencinya.
Saat memasuki masa awal akhil baligh, aku mulai menemukan Ayahku yang sesungguhnya. Ternyata dia adalah seorang lelaki lemah lembut yang sangat sangat menyayangi kami. Semua yang Ayah lakukan adalah usaha untuk mendidik kami. Aku tidak mau membenarkan tindakan Ayah karena hal itu memberikan trauma tersendiri bagiku. Tapi, aku tak juga mau menyalahkan Ayah. Aku masih beruntung karena Ayah hanya bertindak seperti itu saat aku masih kecil.

Coba lihat tetanggaku. Saat masih kecil dia dimanja-manja orang tuanya. Baru setelah dia masuk SMP dia dikerasi oleh Ayahnya. Itu lebih memalukan bukan? Seorang anak yang sudah SMP masih harus dipukul oleh orang tuanya. Dan dampaknya akan tampak lebih jelas lagi. Akan ada semacam pemberontakan nyata pada orang tua. Padahal pada usia itulah kami, anak-anak usia itu memerlukan kasih saying yang lebih besar pada kami.

Aku merindukan sosok Ayah. Yang diantara kekerasannya ada sisi lembut seorang wanita dalam dirinya. Bukan banci lo…Ayahku laki-laki tulen. Kadang Ayah suka menyisir atau mengucir rambut kami. Mendandani kami, dan lain-lain.

ATM Kondom

BENARKAH AKAN MENYELESAIKAN MASALAH

Sekitar setengah tahun yang lalu, ada beberapa mahasiswa masuk ke sebuah PTS di Yogyakarta. Dengan penuh percaya diri mereka mengaku sedang mengampanyekan penggunaan kondom sebagai salah satu langkah mencegah penyebaran virus HIV/AIDS. Sayangnya, ada satu kesalahan fatal yang mereka lakukan, dimana mereka menekankan pencegahan HIV/AIDS dengan menyerukan safe sex. Sebenarnya hal ini tidak terlalu menjadi masalah apabila dilakukan dengan cara yang benar. Sayangnya, cara yang dilakukan dengan mengusung spanduk ke kampus-kampus –tempat menuntut ilmu, dimana sebagian besar populasinya masih lajang.

Cara itu terkesan akan menimbulkan masalah baru. Bagaimana tidak? Safe sex bagi remaja tidak mustahil disalahartikan sebagai penghalalan hubungan sex pra pernikahan alias sex bebas.

Peristiwa tersebut hanya segelintir kisah nyata yang terjadi di lingkungan kita, namun luput dari perhatian kita. Setelah enam bulan berlalu, kini muncul fenomena baru yang justru lebih transparan karena dilakukan oleh pemerintah, yaitu ATM kondom.

Mesin penjual kondom ini dijadikan alternatif bagi pemerintah untuk mempermudah masyarakat memperoleh alat kontrasepsi, selain juga untuk menekan angka penularan HIV/AIDS melalui hubungan pernikahan. Hal ini sedikitnya tidak jauh berbeda dengan masalah yang telah dipaparkan sebelumnya.

Permasalahan ATM kondom menimbulkan kontroversi masyarakat. Hal ini dirasa hanya akan menimbulkan masalah baru. Bagaimana seandainya alat ini akhirnya disalahgunakan? Begitulah kira-kira pikiran yang muncul dalam benak mereka. Selain pasangan suami-istri yang dimudahkan dalam mencari alat kontrasepsi berupa kondom, bukankah anak muda termasuk pelajar dan mahasiswa juga lebih mudah pula mendapatkannya? Bisa jadi, mereka yang dulunya masih takut-takut untuk melakukan hubungan sex pra nikah kini menjadi ‘lebih berani’ karena merasa dilegalkan. Bagaimana seandainya mereka kemudian berpikir, “Kalau ATM kondom dilegalkan, bisa jadi sex before married is also legal.”?

Hal ini bukan tidak mungkin bakal terjadi mengingat banyaknya remaja yang berpikir, adanya peraturan adalah untuk dilanggar. Bukankah maraknya kasus remaja saat ini tidak lepas pula dari hal tersebut. Apalagi, kondom bukanlah suatu jaminan untuk tidak terjadi kehamilan. Apabila pelegalan ATM kondom ini benar-benar menyebabkan maraknya sex bebas, selain moral anak bangsa dipertaruhkan, bisa pula terjadi peningkatan angka kehamilan di luar pernikahan, ketidakjelasan nasab, dan aborsi. Siapkah kita dengan resiko ini? Jika resiko lebih besar daripada manfaat yang bisa diberikan, kenapa musti kita lakukan?

Anak Angkat By: handy


Kenapa mesti sendiri? Apa memang aku diciptakan untuk sendiri? Kesendirian telah terlalu mengintimiku. Sejak lahir aku telah sendiri. Tak pernah sekalipun kulihat wajah Ayah dan Ibu. Ayah meninggal beberapa bulan setelah kehamilan ibu. Ibu? Sejak kecil aku telah menjadi pembunuh. Aku telah membunuh ibu dengan ‘melahirkanku’. Di panti asuhan pun aku tetap sendiri. Aku tak mau seorang pun berbicara padaku atau menyentuhku. Hiperbolic memang. Tapi begitulah kenyataannya.
Aku tak mau selamanya hidup dalam kesendirian. Apalagi terisolasi. Sekali terisolasi di kamar mandi, hanya 3 jam. Namun selama itu aku sudah begitu tersiksa. Aku takut sendiri, walau pada kenyataannya aku memang selalu sendiri. Hidupku terisolasi bertahun-tahun ini.

Aku tak tahu apa yang menarik dari anak tak punya kawan sepertiku. Aku tak tahu mengapa Papa dan Mama memilihku menjadi anak angkat mereka. Mengapa bukan anak-anak lain yang lebih cantik, lucu, dan telah bergaya semanis mungkin? Mengapa justru aku? Tapi yang jelas mereka sangat baik padaku. Apapun yang kuinginkan selalu terpenuhi. Sekolah hingga perguruan tinggi yang tak pernah kubayangkan, kini benar-benar nyata.

Akhirnya semua berubah sejak Mama hamil. Itu anak pertama yang lama mereka dambakan. Ya, anak pertama. Bukan anak kedua seperti yang mereka katakan. Karena aku bukan anak Papa dan Mama. Karena aku hanya anak pungut dari panti asuhan. Bukan dari rahim Mama.


Silvia menjadi adik kesayanganku. Dia menyayangiku layaknya kakak kandung sendiri. Memang begitulah yang ia tahu. Mungkin ia tak pernah menyadari, atau justru tak mau menyadari perbedaan mencolok antara kami? Kulitnya kuning sedang aku sawo matang. Dia sipit, aku tidak. Dia berbau Cina, aku berbau Jawa. Apa ia tak pernah merasa aneh? Padahal orang lain saja selalu menanyakannya.
Di keluarga ini aku tak kurang kasih sayang. Semua menyayangiku. Tapi, hanya sendiri yang ada di otakku. Apalagi bila mengingat statusku. Aku akan semakin merasa sendiri. Sayangnya, aku selalu mengingatnya.


“Dasar anak kampung! Nggak tau terimakasih. Udah dijadiin keluarga malah ngelunjak.” Silvia menggerutu di depanku hari itu.

“Kenapa, Dik?” tanyaku padanya. Selama ini hanya Silvia yang dapat membantuku melupakan kesendirianku. Dia obat sendiriku. Karena aku sangat menyayanginya. Sangat!!

“Itu Si Nova. Udah ditolong, dihidupin, eh malah nggak tau terimakasih gitu. Pacar kakaknya diembat juga. Aku kan kasihan lihat Mbak Retno jadi patah hati kayak gitu.” katanya emosional.
“Dasar! Anak angkat aja belagu!”

CRASSHH….
Seperti ada kilat menyambarku tiba-tiba. Aku serasa tertampar. Anak angkat…
Adikku memang manja. Seperti anggapan orang tentang anak terakhir. Kekanak-kanakan, egois, mau menang sendiri, tapi… kadang ia begitu sosialis. Suka merajuk dan agak centil. Aku tak mampu menolak bila ia telah merayuku. Karena aku sangat mencintainya. Tapi, benarkah kata-kata itu keluar dari mulutnya? Begitu rendahkah pandangannya terhadap anak angkat? Apa aku salah jika aku juga seorang anak angkat?

“Sudahlah. Kenapa kamu jadi sewot? Memangnya pacar kamu yang direbut? Lagipula tindakannya itu kan tidak ada hubungannya dengan status dia sebagai anak angkat.” Aku mencoba menanggapi dengan tegar, agar terlihat biasa.

“Tentu saja ada. Kalau dia sadar ama statusnya, dia nggak bakal ngelakuin tindakan semacam itu. Pokoknya sekali anak angkat ya anak angkat. Nggak tau diri!”

Silvia masih terus menggerutu. Dan tanpa berkata apa-apa lagi, aku masuk ke kamar dan mengunci pintu. Aku menangis sepuas-puasnya. Ternyata, semua sudah harga mati untuk Silvia.


Malam itu Papa, Mama dan Silvia duduk di ruang tamu. Dengan sangat hati-hati Papa dan Mama menjelaskan statusku pada Silvia. Mereka menunjukkan kartu keluarga yang selalu rapi ‘disembunyikan’ darinya. Silvia tampak menitikkan airmata. Papa dan Mama meminta maaf karena tak memberitahukan hal itu sejak awal.

“Silvia sayang sama Mbak. Siapapun dia, Silvia sayang dia, Pa. Dia kakakku, Ma.” Semua menangis. Lalu hening.

“Pa, Mbak Shinta…!!” teriak Silvia tiba-tiba. Panik. Seharian aku tak keluar kamar. Silvia tentu teringat makiannya pada Novi di depanku.
Pintu digedor kuat. Tak ada sahutan. Papa mendobraknya.
“SHINTA…!!!”

Aku menangis di sudut kamar. Aku menyesal. Mengapa kuakhiri hidupku begitu cepat? Ternyata mereka sangat tulus mencintaiku. Harusnya aku tahu bahwa Tuhan ada. Menemaniku. Hingga dia memberikan keluarga ini untukku. Ah…terlanjur kuakhiri hidupku.

Yogyakarta, 25 Juli 2005

Monday, January 02, 2006

aku

emang aku udah lebih dewasa??

Thursday, December 29, 2005

PERSAHABATAN YANG TAK KENAL PADAM(created by: Soesilo)


Seseorang tiada yang tak bertemanSeseorang tidak ada yang sendiriPasti walau hanya satu atau duaDia memiliki seseorang yang disebut: sahabat

Sahabat
Satu kata yang menggambarkan hubungan pertemananPertemanan yang lebih dari hanya sekedar 'teman'Pertemanan yang demikian erat dan akrabPertemanan yang telah dilandasi kesalingfahamanKesalingmengertian antara berbagai pihak yang bertemanPertemanan yang sangat penting, berpengaruh dan berefekBahkan berpengaruh dalam pembentukan perilaku, akhlak dan karakterJuga berpengaruh kelak atas nasibnya di akherat

Sahabat
Carilah sahabat sebanyak bisa dicariSahabat ada disamping kitaSaat kita duka... apalagi dikala kita bahagiaSahabat tidak mudah memang mencarinyaMembutuhkan begitu panjang waktu tuk mengenalinya

Saat kita pedih perih dan lukaSahabat akan mengerti tanpa kita kabariDia seakan punya antena yang amat pekaTerhadap kondisi dan rasa hati kita
Sahabat yang nyata Dia tidak bisa memadamkan persahabatnyaDan tidak bisa pula dipadamkanOleh hanya seperak hartaApalagi sesungging senyuman yang manis rupa

Mari kita bersahabatSebagai sahabat yang nyataSahabat yang saling percaya dan terbukaYang melahirkan kesalingmengertianYang akan menentramkan kita tatkala kita dahaga
Bantul, 26 Desember 2006
Zu Xy Lau

Monday, December 26, 2005

For My Beloved Beautiful Wife!!


Kelas 2 SMA
Perasaan itu tumbuh sedikit demi sedikit. Aku tidak bisa berbohong lagi bahwa aku mencintainya. Mungkin sangat mencintainya. Entahlah, aku sendiri merasa aneh. Setelah 16 tahun aku menjadi temannya, aku baru merasakan hal ini sekarang. Padahal, setiap hari aku bertemu dengannya.

Hari ini, aku benar-benar, 100 % menyadarinya. Dia wanita yang sempurna. Cantik, cerdas, modern,…apa yang kurang darinya? Excellent. Aku ingat betul kata-kata guru bahasa Inggrisku tadi siang.

"What men look for in a partner? First, physical attractiveness. Then, warm and affection, social skills, homemaking ability, fashion sense and sensitivity."
Itu pendapat laki-laki Amerika Utara. Tapi, boleh kan aku mengangankan wanita seperti itu juga?

Kalau dipikir-pikir, apa yang tak ia punya? Ia cantik, body-nya OK, lemah lembut, dan pintar bergaul. Sebagai temannya aku juga cukup tahu kalau dia pandai mengurus rumah. Aku kan sering bermain ke rumahnya. Soal fashion, cewek mana yang tak kagum dan ingin meniru dia? Dia itu trendsetter. Dan yang pasti dia sangat peka terhadap perasaan orang lain. Dia itu seorang psikiater buatku. Satu lagi yang perlu kutambahkan, dia itu pintar dan berwawasan luas. Sekretaris OSIS, juara parallel, presentasi sempurna, dan percaya diri yang tinggi. Cowok mana yang tak tertarik padanya?

Dan sejak kelas 2 SMA ini aku merasakan perasaan aneh itu. Yang kuyakini sebagai cinta. Ya, aku yakin sekali inilah cinta yang sesungguhnya. Cinta sejati yang hanya akan kurasakan sekali saja. Aku setengah yakin bahwa Niken, gadis Jogja yang sangat modern, teman mainku sejak kecil itu adalah cinta pertama dan akan jadi yang terakhir buatku.

Minggu kedua Bulan Januari, Sembilan tahun kemudian…
"Kamu ini mau istri yang seperti apa to’ Le? Lihatlah umurmu, sudah 25. Apa ndak kepikir untuk cari istri yang baik buat kamu?"

Ah…awalnya aku cukup merah kuping waktu mendengarnya. Entah sudah berapa kali Simbok menanyakan hal ini padaku.

"Simbok itu kuno. Jaman sekarang laki-laki menikah umur 30 tahun saja biasa. Kenapa aku yang baru berumur 25 tahun musti kesusu?" bisik batinku. Tapi, di depan Simbok aku tetap diam saja.

"Kamu itu kurang apa to, Le? Kuliah sudah lulus, kerja yo wis mapan. Nunggu apa lagi?"
"Nunggu calon, Mbok." Jawabku sekenanya. Padahal sebenarnya aku pun tak tahu apa yang kutunggu.
"Calon itu jangan ditunggu. Kamu itu lanang, Le. Musti nyari."

"Iya, Mbok." Malas-malasan aku memenangkan Simbok.
Percakapan itu cukup mengusikku juga rupanya. Mau tak mau aku tak bisa tidur malam ini. Sempat muncul bayang-bayang Niken di otakku. Apa mungkin dia? Tapi, bukankah sejak kuliah dulu, dia sudah mulai berubah? Dia tak lagi menghiraukanku. Ah…lalu, apa aku musti mengakhiri masa lajangku secepat ini? 25 tahun?

Astaghfirullah!!! Aku terhenyak pada bilangan itu. Aneh, aku baru sadar, padahal sudah sejak tadi aku memikirkannya. 25 tahun…bukankah Rasulullah juga menikah di usia itu? Aku sudah tidak muda lagi rupanya. Ah…aku bersikeras untuk tidak memikirkannya dulu. Mungkin, mending aku baca buku saja dari pada terus terusik. Aku asal buka-buka buku yang ada di depanku. Dan…

"Wahai para pemuda, jika salah seorang di antara kalian sudah mempunyai kemampuan, hendaklah segera menikah…"

Astaghfirullah!!!

Minggu ketiga bulan Januari
Hari ini juga kuputuskan untuk memberitahu Simbok tentang perasaanku pada Niken. Awalnya Simbok menolaknya mentah-mentah, dengan alasan kami ini orang miskin. Pekerjaanku sebagai staff redaksi di sebuah majalah islami -yang kata Simbok sudah mapan- itu pun ‘tak level’ untuk priyayi macam keluarga Niken. Aku terus membujuk Simbok. Aku yakin, Niken memang jodohku. Dan untungnya, Simbok luluh juga.

Ternyata keluarga Niken tak segarang apa yang ada dalam bayangan kami. Intinya, mereka menerima lamaran itu. Niken juga. Ah…bungah rasanya membayangkan punya istri sesempurna Niken. Apa kata teman-teman kantor nanti?

"Wah…istrimu cantik banget. Pinter banget. Rumahmu rapi banget…"
Serba banget pokoknya. Bawaannya orang lagi seneng mungkin ya?
Sekarang, masalahnya hanya mencari mahar untuk Niken. Aku sempat terhenyak ketika mendengar tujuh digit angka tersebut. 9.999.999 rupiah??

"Angka 9 itu kan paling gedhe. Jadi, itu bukti cinta Mas Handoko yang paling gedhe untuk saya, Budhe. Kalau Mas Handoko benar-benar mencintai saya, saya rasa ini bukan masalah." Kata Niken waktu itu, langsung di depanku dan Simbok. Aku tak habis pikir. Bukankah wanita yang paling baik itu yang paling murah maharnya? Kenapa Niken justru meminta mahar sebanyak itu? Lalu, dari mana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu? Tapi, apa aku musti menawar mahar?

Ah…pusing rasanya. Mau nikah saja kok susah. Aku tidak ingin proses ini terlalu lama. Tapi, mahar sebanyak itu mana bisa aku dapatkan dalam waktu dekat ini?

Bahkan, belum aku berhasil mendapatkan uang sebanyak angka tujuh digit itu, aku sudah dibuat shock lagi oleh keluarga Niken. Mereka tiba-tiba membatalkan penerimaan lamaran. Hanya Karena aku meminta Niken untuk memakai jilbab saat pernikahan dan sesudahnya.

"Mau kawin kok ngatur-ngatur. Mas kawin saja belum kelihatan sudah minta yang aneh-aneh." Begitu kabar yang aku dengar telah menyebar dari mulut ke mulut, mengenai tanggapan keluarga Niken.

Bisa dibilang aku frustasi. Niken sendiri menolak mentah-mentah permintaanku itu. Saat itu pula aku sadar, banyak hal yang tak kuketahui tentang Niken. Persahabatan kami selama ini bukan jaminan untuk mengetahuinya lebih dekat lagi. Dan, bukan hanya aku yang malu. Simbok pasti lebih malu lagi, karena Simbok yang lebih banyak bergaul dengan tetangga kami. Aku tidak tega. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi. Kami hanya bisa menghadapinya saja.

Bulan Maret, minggu kedua
Sudah sebulan berlalu sejak penolakan itu. Aku memutuskan untuk tidak terlalu pusing memikirkannya. Walaupun para tetangga masih suka menggunjing kami ataupun keluarga Niken. Aku tidak peduli. Sekarang aku ingin lebih terfokus untuk belajar terlebih dahulu. Mungkin, semua itu terjadi karena aku terlalu terburu-buru.
Tapi, belum lama aku memutuskannya, malam ini aku bermimpi sesuatu.

"Mbok, aku mimpi disuruh menemui Pak Ustadz Fachrozi, yang ngajar ngaji waktu kuliah di kampus dulu. Kira-kira ada apa ya, Mbok?" tanyaku pada Simbok.
"Coba kau temui saja. Mungkin itu petunjuk dari Gusti Alloh, Le."

Singkat cerita, kutemui Ustadz Fachrozi di rumahnya. Kuceritakan perihal mimpiku pada Ustadz, tak lupa kabar pembatalan pernikahanku dengan Niken.

"Yah…kita ambil hikmahnya saja, Ko. Justru dari situ kan, kita bisa tahu apa pentingnya ‘perhiasan dunia yang paling indah itu’? Wanita sholehah. Tidak perlu disesali. Bukankah laki-laki yang baik itu untuk wanita yang baik pula? Dan sebaliknya. Jadi, kalau kamu yakin kamu itu baik, jangan pernah ragu dengan janji Alloh. Dan ingat, apa yang kita cintai di dunia, belum tentu dicintai olehn-Nya. Tapi yakinlah, Allah pasti tahu apa yang terbaik untuk kita."

Aku mendengarkannya dengan seksama. "Terimakasih, Ustadz." Lega rasanya setelah aku berbincang dengan Ustadz Fachrozi. Dulu waktu di kampus, beliau memang idola anak-anak. Dekat pula dengan mereka, termasuk aku. Dari beliau pula aku mulai belajar untuk tidak terfokus pada Niken, sampai aku siap menikahinya. Dan sekarang….

"Sekarang, mau tak…Ustadz kasih lihat wanita cantik?"
"Maksud Ustadz?"
"Ya…coba lagi."
Aku agak gusar. Sebenarnya, aku masih takut.
"Cantik…sekarang saya hanya perlu yang sholehah Ustadz."
Ustadz Fachrozi hanya tersenyum kecil.
"Lihat saja apa nanti kamu bisa menolak ‘cantik yang ini’." Aku hanya mengerutkan dahi.
Bulan April

Ceritanya aku, Simbok, dan Ustadz Fachrozi menemui orang tua wanita yang kata ustadz Fachrozi cantik itu. Aku juga diperbolehkan untuk melihat wanita itu. Cantik memang, walaupun tampak lebih sederhana dari Niken. Kata Ustadz Fachrozi, dia sholehah. Itu yang paling penting buatku sekarang.

Dan ternyata, proses menuju pernikahan begitu cepat. Tak lebih dari dua minggu proses ta’aruf, kami merasa cocok. Tentu keputusan ini aku ambil setelah melakukan sholat istikharah seperti kata Ustadz Fachrozi. Kini kami telah resmi menjadi suami istri dan tentu, kami telah memiliki hak dan kewajiban masing-masing.

Kurasa pria manapun yang menikah dengan wanita sholehah macam istriku, cepat atau lambat akan tahu secantik apa istri mereka. Isyah istriku , memang cantik. Perhiasan dunia yang terindah buatku. Bahkan, aku seperti melihat calon bidadari surga di rumahku sendiri setiap kali memandangnya.

Bayangkan, dari bangun tidur hingga tidur lagi wajahnya yang mendominasi rumahku. Tapi aku tak pernah bosan. Selalu ada saja yang membuat dia tampak begitu cantik di mataku. Bukan wajahnya. Tapi, apa yang terpancar dari wajahnyalah yang membuatnya demikian. Dia teman yang baik, yang selalu mengantarkanku pergi bekerja dengan senyum yang meneduhkan. Dia yang selalu menyambutku penuh kerinduan saat aku letih sepulang bekerja. Dia teman diskusi yang jenius. Subhanallah…Bayangkan betapa cantik hatinya…saat ia berhasil meredam emosiku yang kadang meluap-luap. Cantik kan?

Dan, melihatnya seakan memberitahukan padaku bahwa cinta yang sejati adalah cinta kepada Yang Menganugerahkannya padaku.


Rait
Yogyakarta, 21 Oktober 2005

Saturday, December 24, 2005

THE NEW ME IN THE NEW YEAR

(evaluasi diri tahun bari)
Tahun baru. Hal yang mungkin udah dinanti-nantikan banyak orang. Buat aku, sebenernya tahun baru tuh bukan hal yang spesial, yang musti dirayain rame-rame bareng temen-temen atau orang terdekat kita. Tahun baru buat aku adalah kesempatan kita buat evaluasi diri. Banyak yang melakukan evaluasi selain aku. Misalnya perusahaan-perusahaan, instansi pemerintah, dan tentunya aku berharap banyak orang yang melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.

Tahun baru itu kesempatan kita untuk menilik lagi apakan tujuan akhir hidup kita udah bener? Misalnya tahun kemarin aku punya target untuk jadi juara kelas. Apa targetku udah aku dapet tahun ini? Trus, berapa persen dari semua target tahun lalu yang udah tercapai dan berapa yang belum? Aku perlu bikin evaluasi tentang itu. Trus, nata rencana dan target untuk tahun depan. Kalo tahun kemaren aku cuman pengin jadi juara kelas, sekarang aku punya target untuk jadi juara parallel misalnya.

Tahun baru buat aku saat-saat yang indah juga buat ngenang setahun yang udah berlalu. Misalnya, tahun ini aku dapet banyak hal spesial yang dikasih Tuhan dan aku belajar banyak hal baru. Misalnya gimana aku bisa nerima kenyataan, kalau nggak semua keinginan dan harapan kita tuh musti tercapai and terturuti. Kutipan ini aku dapet dari Ayahku waktu beliau bilang, “Yah…maklumlah Yan, Ayah juga tahu kok gimana rasanya kecewa. Waktu kecil Ayah juga sering kecewa. Tapi kan nggak papa. Nggak semua keinginan itu harus dituruti.”

Trus aku juga dapet pelajaran kalau materi itu nggak seberapa penting daripada…banyak hal. Persahabatan misalnya. Atau dukungan orang-orang yang nggak bisa dibayar dengan uang. Ini aku dapetin waktu aku cuman jadi juara III di suatu lomba. Ya, sempet kecewa juga. Tapi nggak aku sangka-sangka, aku nemuin hal baru kalau ternyata banyaaak banget orang yang dukung aku. Dari temen-temen sekelas, guru-guru, sampe petugas TU yang aku nggak kenal dia pun kasih dukungan buat aku. Berapa rupiah tuh dukungan bisa dihitung? Nggak bisa dong. Dan masih banyak lagi pelajaran yang bisa aku petik selama setahun ini. Yah, setahun ini bikin aku lebih kaya and dewasa, daripada setahun yang sebelumnya.

Tahun baru juga waktunya aku buat bikin pengakuan atas kesalahan and dosa-dosa aku buat jadi “aku yang baru”. Misalnya tahun lalu aku pernah pinjem kartu perpustakaan temenku tanpa ijin and bikin dia kalang kabut nggak karuan. Itu semua tuh inisiatif temenku. Tapi aku nggak bisa nyalahin siapapun. Salah atau nggak kan pilihanku sendiri. Kenapa aku mau coba? Akhirnya aku harus ngerasa berdosa banget. Dan aku belajar buat ngeakuin kesalahan (tanggung jawab man!).

Trus, ada hal spesial yang aku dapet selama setahun ini. Aku dapetin Ayahku tuh perhatiaaaan banget sama aku. Aku juga nggak tahu Ayahku kena sambet apa (na’udzubillah). Tapi beliau tuh bener-bener hebaaaat banget. Maniiiis banget. Aku suka banget deh.

Nah, untuk nata tahun depan aku musti bisa kasih balasan buat sikap semua orang sama aku. Dan aku musti jadi The Better Me! buat tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

Ada dua pilihan untuk tahun depan, buat siapa pun yang mau evaluasi diri. Simple aja kok. Jadi lebih baik atau lebih buruk. Kata Sean Covey (aduh aku tergila-gila sama dia apa yah? Aku ambil intinya aja yah), mau jadi apapun kita itu pilihan kita. Jadi, jangan sampe nyalahin siapapun seandainya tahun depan kita jadi the worse us. Karena itu kan pilihan kita juga. Maka dari itu, kenapa kita musti bikin rencana buat tahun depan yang lebih baik. Jangan sampai deh, tahun depan kita masih jadi tukang niru. Tahun ini kita musti jadi orang yang bisa kita banggakan. Artinya, tahun depan kita musti bangga sama diri kita dengan segala yang udah dikasih Tuhan buat kita. Kalau tahun lalu kita masih ngerasa didikte sama ortu, pacar, temen, atau orang lain di sekitar kita, tahun ini kita musti independen.

Kalau tahun lalu kita masih ngerengek-rengek minta ini-itu sama ortu, tahun ini kita musti bisa buat lebih ngerti ortu and ngehormatin mereka. Kalau bisa, kita tunjukin kalau kita bisa dapet apa yang kita pengin by our selves. Bantu ortu juga kan?

Trus, kita juga musti kumpulin semua masukan-masukan buat bangun diri kita sendiri. Misalnya tahun lalu aku dibilang kalau lagi sibuk suka nggak pedulian. Tahun ini aku musti gimana? Lebih bisa ngatur antara pribadi dan sosial dong. Boleh sibuk tapi nggak lupa temen. Trus kalau tahun ini kita dapet kritik pedes dari guru katanya kita selengekan, tahun ini aku jadi the better student!

Oh iya, tahun ini aku dapet PR untuk bikin klub karya ilmiah di sekolah. Aku juga musti bikin action plan juga dong biar nggak amburadul and bisa jadi klub yang baik. So, udahan dulu yah…!

MY SPECIAL DAY

Tanggal kesayangan gue 10 Januari udah mau dating. Tapi aku nggak terlalu suka. Selain berasa udah mulai tua, sisa umurku udah berkurang 18 tahun. Sedih banget….
Tapi, aku berasa dewasa juga. Biarpun aku mungkin masih di tahap middle adolescent tapi berasa udah pengin dewasa aja. Biarpun masih banyak yang bikin aku blom pantes dibilang dewasa, tapi nggak apa aku mau bilang kalau aku udah dewasa. Suka-suka aku dong!!!
Trus, aku pengin matur thank you buat orang-orang yang udah berjasa banyak buat aku. Buat Ayah-Ibu yang udah so kind….hiks..hiks…mohon maap jg deh. Trus buat kakak-kakakku yang unik-unik, gengsi gue bilang thank you. Temen-temen yang senasib sepenanggungan, so thank you for all. Buat orang-orang nyata yang udah bikin aku belajar banyak tentang hidup and kehidupan (cie…sruuut sruuut…ih jijay). Trus…buat orang-orang dunia maya juga nggak ada salahnya. Thank you. Buat pengemis di jalan, tukang jualan di sekolah, pak kbon, petugas perpus, thanks for the service (pengemis ngasih servis apa? Au ah..)
Buat orang-orang yang udah bikin bete. Maybe kalian cuman salah satu sarana dari Tuhan buat ngingetin aku supaya jangan bikin bete orang lain. Dan yang pertama……(lho kok di belakang..) Thanks GOD!! I LUV U so much…!!

Belajar dari Kegagalan

Ada banyak hal positif yang bisa kita ambil dari cerita hidup kita. Sekarang aku tahu kenapa cerita hidupku itu bisa indah banget. Karena hatiku bilang itu indah. Sean Covey pernah bilang, APA YANG KAMU DAPATKAN ADALAH APA YANG KAMU LIHAT. Jadi, ketika aku lihat hidupku itu indah, itu yang aku dapat. Hidup itu indah buat aku. Bahkan aku bisa nyombong kalo hidupku tuh lebih indah dari hidup siapa pun. Itu hakku kan? Dan semua orang nggak salah kok seandainya mereka mau bilang hal yang sama tentang hidup mereka. Hidup kita lebih indah dari novel-novel terkenal macam “The Lost Boy”, “A Child Called It” atau “A Man Named Dave”-nya Dave Pelzer.
Kemaren aku kalah waktu ikutan lomba karya ilmiah siswa (KIS). That’s very bad. Buuuuuruk banget buat aku. Nggak ada yang lebih buruk daripada ngikutin sesuatu yang ‘nggak seharusnya diikutin’. Aku lebih suka bilang begitu. Aku lebih suka bilang bunuh diri. Siapa yang mau ikut lomba karya ilmiah kalo naskahnya musti jadi dalam sehari semalem?
Tapi aku yakin, nggak ada ruginya kalo aku ikut. Toh aku punya prinsip…”Keep on Trying”. Walaupun aku sadar bener…kalo aku lagi ngelakuin sesuatu yang nggak perlu aku lakuin. Sesuatu yang sia-sia. Aku nggak akan menang dengan naskah yang kayak gitu. Yang jelek. Yang amburadul. Yang tanpa persiapan. Aku yakin nggak akan ada juri yang menangin aku, kecuali kalo jurinya ngantuk. Nggak ada keajaiban dengan suatu kebodohan. Nggak akan semudah itu.
Tapi…semua itu bukan berarti kalo semua udah berakhir kan buat aku? Toh aku nggak akan rugi. Nggak sakit, nggak kehilangan apapun. Aku musti tetep ikut. Apalagi udah ada banyak orang yang dukung aku.
Dan aku dapet satu tantangan lagi. Musti presentasi dengan bahasa Inggris. Sampe detik-detik terakhir aku masih ragu apa aku bisa. Aku benci itu. Nervous n gak percaya diri. Semua jadi sulit. Kurasa bukan karena aku nggak mampu. Lebih karena aku nervous, tertekan sama keadaan diri sendiri. Dan karena itu pula aku musti puas nangkring di urutan 12 dari 25. So BAD!!!
Tapi ada yang bisa aku ambil dari itu semua. Kaya dalam buku “The 7 Habits of Highly Effective Teens”-nya Om Sean, jadilah proaktif. Bukan reaktif. Aku adalah sumber pendorong bagi diriku sendiri. Manusia bisa bahagia atau tidak adalah tergantung pilihannya sendiri (Abraham Lincoln, mantan presiden Amerika Serikat). Aku nggak bisa nyalahin furuku yang udah nyuruh aku ikut, padahal beliau juga nggak yakin aku akan menang. Dan dia tahu, kemungkinan buat menang itu kecil banget. Atau karena beliau kasih sms aku yang bikin aku nangis sebelum lomba. Itu cuman dukungan dan harusnya aku bersyukur untuk itu. Aku juga nggak bisa nyalahin kepala sekolah yang nggak pernah tanggap sama ajang kreativitas anak-anaknya sampe informasi selalu aja dating telat. Atau keadaan yang bikin aku gecubrakan. Semua itu udah jadi pilihanku. Aku yang milih untuk ikut. Aku yang pengin nyoba dan buktiin prinsipku sendiri. Semua pilihanku. Aku yang bilang dalam hati, nggak ada ruginya aku ikut. Aku udah ngikutin kata hati. Jadi, nggak ada yang salah dong. Bahkan kalo akhirnya aku kalah, juga bukan suatu kesalahan. Itu bisaa, kata guruku (berarti aku bisaa kalah dong…huaaa……)
Dan semua kebukti kok kalo emang nggak ada ruginya aku ikut. Aku bahkan bisa nyebutin daftar keuntungan yang aku dapet dari situ. Aku bisa dapet banyak temen, tambah pengalaman, tambah pengetahuan, tambah pede, dan aku jadi tahu, nggak perlu takut untuk nyoba sesuatu. Aku jadi sadar, aku udah ngelakuin sesuatu yang hebat. Bukannya nggak semua orang mau dan berani, walaupun sekedar buat nyoba? Dan aku udah buktiin kalo aku bisa. Itu hebat kan? Dan kaya kata Bapakku, aku udah menang pengalaman. Dan mimpiku selama ini yang bikin aku males masuk SMK (karena di SMA ada KIR) bakal terlaksana. Bakal ada klub KIR di skul dan aku bakal bikin sejarah baru. (Cie…)
Banyakkan yang aku dapet? Dan aku jadi percaya. Kalo…ada yang baik juga karena ada yang jelek, kita bisa dibilang pinter karena ada yang nggak pinter, kita belajar jadi pendengar dari orang yang banyak ngomong, dan KITA BISA BELAJAR BERHASIL DARI KEGAGALAN YANG UDAH KITA DAPAT SEBELUMNYA. Sukses itu bukan dari hasil yang kita capai aja, tapi ke perasaan kita juga. Kalo kita merasa sukses, maka itulah kesuksesan kita yang sebenernya.
Jogjakarta, 20 Desember 2005
Rait Rahmatullah

Tuesday, December 20, 2005

atjeh


Beberapa hari lagi bakal ada acara perpisahan di skul. Aku nggak tau acara macam apa yang bakal dibikin sama anak-anak OSIS. Yang aku tahu, acaranya berhubungan sama selesenya masa praktek anak-anak Aceh di skulku. Yang artinya, mereka bakal balik lagi ke daerah asalnya, Nangroe Aceh Darussalam.

Wah…nginget-inget anak Aceh sebenernya rada bikin nggak ngeh juga. Awal perkenalan yang bikin gondok gedhe cukup jadi pelajaran buat aku.
“Ada bayaran nggak?”

Wah…kaya ditonjok godam waktu denger kata-kata itu keluar. Sebenernya aku udah nggak enak banget buat minta salah satu ato dua dari mereka buat ngisi acara pemutaran vcd tsunami malem itu. Pikirku, apa aku nggak garamin luka mereka? Tapi setelah denger jawaban yang kayak gitu…aku jadi sebel-sebel gimana…gitu (lha gimana sih?)

Tapi ada juga hal yang perlu aku kagumin dari mereka. Terutama semangat belajarnya. Waktu itu, ceritanya aku lagi latihan presentasi sampe sore. Lagi mendung gitu. Nggak taunya di luar lab ada 2 anak Aceh yang lagi nunggu Pak Kus, yang lagi sibuk ngurusin anak-anak. Mereka nunggu lumayan lama sampe akhirnya minta aku buat manggilin Pak Kus. Wah…udah nunggu lama gitu, mereka rela latihan komputer sore-sore. Selese jam berapa nanti yah? Padahal kan siangnya mereka baru aja PKL (prakteknya anak SMK). Ck…ck…perlu diacungin jempol deh. Coba bandingin ma aku, mending bolos kali..hehe…

Dan yang pasti nggak bisa dilepasin waktu ngomongin anak Aceh…pasti (kaya yang udah disebut sebelumnya), soal tsunami. Nggak semua dari anak-anak Aceh itu jadi korban tsunami. Tapi tetep aja, pasti ada trauma tersendiri dalam hati mereka. Apalagi buat yang jadi korban. Denger cerita mereka mungkin udah klasik. Tapi sisa-sisa luka mereka…apa kita masih bisa bilang kalo itu juga hal yang klasik?

Seingetku, awal adanya berita Tsunami tuh bener-bener duka buat seluruh bangsa Indonesia. Nggak sedikit orang yang nitikin air mata. Ada buaaaannyyak banget hikmah yang bisa dipetik dari sana. Salah satunya, klo ternyata sodara kita tuh bukan cumin orang-orang yang ada di sekitar kita aja. Mereka, biarpun jauh di ujung barat sana, juga saudara kita.

Dan ada yang sebenernya pengin aku bilang buat mereka. Bahwa dari sini kita udah mulai bikin jalinan persahabatan. Yang tentunya nggak bisa diukur dengan materi sejumlah “berapa” pun.
Buat kita yang dulunya nunjukin simpati yang gedhe banget, mereka masih butuh simpati dari kita. Di akhir tahun yang bakal ngingetin kita sama peristiwa tragis 26 Desember 2004, kita introspeksi lagi deh diri kita. Masih nggak sih kita punya toleransi yang sama kaya setahun yang lalu? Masih nggak sih kita nyelipin do’a-do’a buat mereka di sela do’a buat diri kita sendiri?

Dan yang musti kita ingat, kita nggak cukup cumin menyesali apa yang terjadi. Banyak hikmah di balik peristiwa itu. Semuanya bakal mendewasakan kita. Dan yang musti kita lakuin sekarang, hidup sebagai manusia baru yang siap buat bangun lagi dari kehancuran. Dengan semangat baru dan jiwa yang baru. Semoga kita bisa membangun Aceh kembali. Amin…

Jogjakarta, 5 Desember 2005

berbagi


Bahagianya bila dapat membagi bahagia
Ringannya bila berbagi derita
Indahnya bila berbagi cinta
Maka berbagilah

SEDETIK SETELAH 1000 TAHUNKU


Seribu tahun t’lah kulalui
Memikirkanmu
Merenungkan segalanya tentangmu
Membuang waktu yang diberikan untukku
Seribu tahun ini aku menyesali
Meronta-ronta untuk melepas diri
Terbebas dari belenggu yang membunuh hati
Maka,
Biarkanlah sedetik ini
Sebelum benang-benang menyesakkanku
Rongga-rongga kehidupanku terhimpit kaku
Biarkan kucoba meraih cinta-Mu
Jogjakarta

Rait, 5 Desember 2005

Sajak yang Ngingetin Aku Tentang Waktu


Mbak number one-ku pernah bilang, “Masa muda itu cuman sekali dan indah banget. Pake sebaik-baiknya, jangan sampe nyesel. Soalnya kamu nggak akan dapetin kesempatan buat jadi remaja dua kali.”


Sajak dari The 7 Habits of Highly Effective Teens:

Untuk mengetahui nilai satu tahun
Tanyakan seorang siswa yang gagal
Dalam ujian kenaikannya.

Untuk mengetahui nilai satu bulan
Tanyakan seorang ibu yang melahirkan
Bayi prematur.

Untuk mengetahui nilai satu minggu
Tanyakan seorang editor majalah mingguan.

Untuk mengetahui nilai satu hari
Tanyakan seorang buruh harian yang punya
Enam anak untuk diberi makan.

Untuk mengetahui nilai satu jam
Tanyakan seorang kekasih yang sedang menantikan
Waktu bertemu.

Untuk mengetahui nilai satu menit
Tanyakan seorang yang ketinggalan kereta.

Untuk mengetahui nilai satu detik
Tanyakan seorang yang selamat dari kecelakaan.

Untuk mengetahui nilai 1 milidetik
Tanyakan seorang yang memenangkan medali di Olimpiade.

INI DIA KENAPA WAKTU BEGITU BERARTI, DAN SAYANGNYA AKU MASIH SERING NYIA2IN.

Monday, December 12, 2005

senyum

SENYUM adalah bahasa dunia. Ia menunjukkan keceriaan. SENYUM adalah perhiasan batin yang dapat membantu mengindahkan perhiasan lahir yang tidak sempurna. Setiap kali berhubung dengan orang lain, sewajarnyalah kita SENYUM. SENYUM adalah jalan pintas bagi menyatakan anda menyukai seseorang. "SENYUM" yang kamu berikan apabila berhadapan dengan sahabatmu adalah satu sedekah. SENYUM adalah jambatan persahabatan. SENYUM adalah satu perlabuhan yang pastinya tidak akan merugikan. Di Moscow, Rusia, ada sekolah yang mengajar untuk SENYUM. SENYUM harus ada ketululusan. SENYUM yang dibuat-buat pasti tidak akan menyenangkan, sama saja dengan kening yang berkerut. Adalah diperakui, setiap kali terSENYUM kita hanya menggerakkan 15 otot manakala ketika marah kita akan mengedutkan 63 otot di bahagian muka. Perbuatan mengerutkan dahi saja memerlukan gerak kerja 40 otot. Bayangkanlah !!! "SENYUM" juga adalah malaikat rahmat yang turun ke dunia. Kebanyakkan SENYUM adalah jangkitan. Apabila kita SENYUM orang akan SENYUM balik kepada kita. Orang akan merasa dihargai bila kita SENYUM padanya, sekligus ia akan memberi tanggapan yang baik kepada diri kita. Lantas ... . kenapa kita tidak muliakan ? Muliakan dengan diri kita. SENYUMlah kepada orang yang tidak anda kenali hari ini. Insya-Allah dia akan membalas SENYUMan anda itu. Alangkah mudahnya membina rangkaian persahabatan... ... .. Willian Shakespere mengatakan : "Apa yang anda kehendaki akan lebih cepat diperolehi dengan SENYUM daripada memotong dengan pedang" Semasa bekerja, semasa belajar, SENYUMlah. Ia akan menumbuhkan rasa keriangan dan kegembiraan. Bila berhadapan dengan keadaan sukar SENYUMlah. Bukankah ketawa yang sopan itu sehat. Pujangga menyebut : "SENYUMan itu kelopak. Tertawa itu bunga yang sempurna kembangnya

my best friend

anita itu temen terbaikku. aku pernah marahan sama dia selama sebulan cuman gara-gara salah paham. sedih n nyesel banget rasanya. untungnya aku mau minta maaf sama dia. yah...walaupun gak bisa kaya dulu lagi tapi aku seneng baikan lagi ma dia. aku g tau kenapa aku bisa deket n temenan ma dia. padahal...dulunya aku sebel sama dia. gak tau kenapa akhirnya bisa jadi close friend. awalnya dia itu nggak cewek banget. hhehe..tapi lama2 dia berubah. ya...mungkin persahabatan kami bikin timbal balik. aku jadi rada tomboy eh dia malah jadi girly. hehe... dulu, kemana-mana aku ma nita tuh always 2gether. gak kepisah. mo ke kantin, ke kamar mandi (nganterin maksudnya), bahkan praktikum sll satu klompok. aku pernah ngilangin bros yang dia kasih. aku nyesel bgt. kita nyari bros itu, balik ke skul (padahal udah 1/2 jalan ke rumah)/ uh..nyesel bgt soalnya brosnya g ketemu. padahal itu hadiah buat ultah aku. aku tahu cerita cinta dia dan dia tahu ttg aku. aku pernah ngeliat dia nangis buat co-nya. dia itu setia bgt. walaupun awalnya aku sempet ngerasa dia bego bgt sih. abis aku baru pertama ngeliat ce nangis gara2 co sih. tapi...akhirnya aku salut juga. sekarang aku gak tll deket sama dia. tapi aku masih sayang dia as my best friend kok. semoga Allah mengekalkan persahabatan kami. amin...

thankful Allah

aku pernah ngerasa narsis. tapi aku juga pernah ngerasa rendah diri banget. sesukaku lah.
tapi sekarang aku ngerasa...hidup setiap manusia itu istimewa.
aku pernah ingin...buat gak hidup lagi. tapi sekarang aku ingin hidup lebih lama lagi. soalnya aku baru ngerasa klo hidupku lebih indah daripada orang lain. cerita hidupku lebih indah dari cerpen atau novel manapun.
aku punya keluarga dan temen yang lebih hebat dari siapapun.
aku ingin mensyukuri semuanya. Terimakasih Allah.

Saturday, November 12, 2005

indahnya cinta

dunia itu indah saat kita bisa mencintai dan dicintai. tapi, kadang saat kita bisa mencintai, belum tentu dicintai dan sebaliknya. tapi ingatlah bahwa benih yang ditebarkan berhasil semi. cinta yang disemai akan dipanen jua.

Friday, August 26, 2005

ALERGI

Nggak suka! Sayur berwarna orange itu nggak pernah aku suka. Dari kecil aku emang nggak pernah mau memakannya. Kalau hari itu masak sop, jangan harap deh bakalan kusentuh. Dulu, aku emang nggak suka banyak jenis makanan. Dari berbagai jenis bahan sop, satu yang aku suka cuman....kuahnya. Ya, aku rela biar cuman makan nasi + lauk yang cuman ditambah kuah daripada harus makan kubis, apalagi daun bawang ma seledri, bikin kepala pusing kalau dimakan. Tak ketinggalan sayuran berwarna orange itu. walaupun dibentuk bunga, polos atau apapun juga, tetap saja makanan itu......nggak menarik.
Sayuran yang satu ini emang banyak mengandung vitamin A. Bentuknya panjang dan meruncing di bagian bawah. Biasanya dia dipakai buat campuran sop, risoles, pastel, bakwan atau berbagai makanan lainnya. Dia juga biasa dipakai sebagai pemanis sajian. Nggak jarang juga dia dibuat jus. Tapi walau apapun cara masaknya, aku tetap nggak suka.
Aku paling suka bantuin orang dapur mengupas bawang dan mengiris-iris sayur, termasuk sayuran itu. Aku suka mengirisnya seperti kipas, kemudian kupotong panjang-panjang untuk campuran bakwan. Aku juga suka mengirisnya bulat dengan cuilan kecil di bagian pinggir-pinggirnya. Cuman itu yang aku suka. Selain itu, tidak!!
“Ih, kok doyan banget seh makan wortel, kaya kelinci aja.” kataku pada Mbak Mega.
“Makan wortel tuh sehat tau, biar nggak sakit mata.” katanya waktu itu.
“Ih apa enaknya? Dimasak aja nggak enak gitu, apalagi dimakan mentah. Heks!” kataku yang mulai nggak sopan pada kakak pertamaku.
Aku mulai membayangkan rasanya di rongga-rongga kerongkongan....anyir. Seketika itu pula perutku terasa mulas.
Beberapa tahun setelahnya, saat aku mulai duduk di bangku kelas 6 di tingkat sekolah dasar, sekolahku mengadakan acara masak-memasak sebagai bahan ujian PKK kami. Tema masakannya adalah Nasi menggono. Ya, begitulah guruku menyebutnya. Jujur saja aku sendiri baru saja mendengar nama itu. Kata guruku, nasi menggono adalah sejenis nasi tumpeng dengan lauk ingkung ayam dan berbagai kelengkapan di sekelilingnya. Penjelasan lebih lanjut tentang bahan dan cara memasak telah dipaparkan di depan kelas dan kelompokpun telah dibagi.
Hari itu kami mulai bekerja. Hiruk pikuk dan celoteh anak-anak mulai menggema memenuhi area parkir yang telah disulap menjadi layaknya sebuah dapur umum. Bahan-bahan yang telah diceritakan oleh Bu Sisca adalah telur, bawang merah, cabe merah besar, kacang panjang, kecambah, mentimun, tomat dan tak ketinggalan seledri serta wortel. Aku mulai membayangkan berbagai bahan makanan yang serba tidak enak. Toh begitu, aku kan hanya memasak saja. Walaupun para guru juga tidak melarang kami untuk menyerbu makanan seusai penilaian dilakukan.
Mmm apa yang harus kami kerjakan, aku belum begitu mengerti. Walaupun seharian aku telah diprivate oleh ibuku tetap saja aku tidak tahu bagaimana cara memasaknya. Untung saja ada teman-teman lain yang tahu dan segera beraksi. Aku sendiri hanya kebagian......seperti biasa mengiris-iris sayuran.
Setelah berjam-jam kami bekerja, akhirnya jadi jga nasi enggono ala anak-anak kelas 6. nasi yang ditaruh di atas piring itu dibawa ke dalam kelas beserta segala kelengkapannya, seperti lilin, bunga, tisu, air minum dan sebagainya.
Karena lama bersibuk ria dengan masakan kami, perutku mulai terasa lain (tentu saja aku nggak full cuman mengiris-iris sayur saja). Ususku terasa seperti dipetik-petik hingga menimbulkan bunyi tang-ting alias krucak krucuk tanda lapar. Aku bergegas membeli buah-buahan di dekat gerbang sekolah bersama teman-temanku.
Oh iya aku sudah berubah loh, dulu aku merasa kalau melon itu nggak enak. Berkat teman-teman yang sering mengajakku membeli buah-buahan, aku jadi suka melon. Dan waktu itupun aku juga membeli elon. Kubawa melon itu ke tempat parkir dan kumakan sambil duduk di atas pembatas parkiran setinggi pusar. Tiba-tiba Tyo datang dengan membawa wortel yang telah bersih terkupas di tangannya. Dia berjalan ke arah kami dan melompat duduk di atas meja, tepat di depan kami. Lalu.................
“KRIUKK!!!”
Suara giginya yang bertabrakan dengan wortel terdengar seperti dalam iklan apel merah yang pernah kulihat di televisi. Seketika itu juga perutku terasa mulas dan melonku pun terasa tidak enak lagi.
“Tyo kaya orang kurang pangan deh.” kataku tanpa basa-basi. Tyo yang tidak mengerti maksud perkataanku hanya mengernyitkan dahinya sambil celingukan.
“Apa? Kurang pangan? Siapa? Maksudnya?” tanyanya kemudian.
“Ya kamu, siapa lagi? Aku kan dah bilang ‘Tyo’. Tyo kurang pangan, masak wortel mentah gitu dimakan.” Protesku sambil berharap dia akan menghentikan kegiatannya memakan wortel di depanku.
“Wah…pinter-pinter tapi bodo juga yah. Zat-zat yang diperlukan tubuh itu justru terdapat dalam makanan, buah dan sayuran yang masih mentah.” katanya sambil menunjukkan gaya Pak Rony saat menjelaskan bab Makanan Bergizi dalam pelajaran IPA.
“Iya seh, tapi itu lebih tepat kalo lo terapin di buah aja, bukan sayur kaya wortel itu.” kataku makin memprotes.
“Ye….serah gue dong. Wortel tuch lebih enak sdaripada melon tau gak? Melon tuch neg banget.” katanya sambil melihat melon di tanganku yang sedari tadi aku pegang saja. Aku tidak lagi memakannya karena perutku sudah mulas.
“Wortel tuch yang anyir.” kataku sambil berjalan meninggalkan Tyo yang terus mengoceh mencela melonku.

***

kakakku yang kedua baru saja pulang dari Bandung setelah bekerja di sana selama 2 tahun. Dia kaget saat melihatku yang kini telah memakai kacamata. Dengan seragam putih biru dan jilbab serta tasku dia semakin merasa menang mengataiku ‘Bu Guru’.
Sebagai kakak yang cukup dekat denganku, Mbak Dyah sudah hafal dengan makanan yang kusukai dan tidak kusukai. Dia tahu sekali cara membangunkanku saat bulan Ramadhan. Kalau aku susah dibangunkan, Mbak Dyah atau siapapun cukup mendekatkan sepiring nasi dengan lauk kering twempe ke hidungku. Tak berapa lama aku pasti membuka mata tanpa harus menggoyang-goyangkan tubuhku atau bahkan menyiramku dengan air. Tak ketinggalan pula kehafalannya pada ketidaksukaanku terhadap wortel. Tapi kakakku ini cukup pintar mengambil hati adiknya. Dia cukup tahu bahwa aku akan mau melakukan sesuatu yang dia minta bila dia juga melakukannya. Pun dalam hal makan wortel.
Hari itu kulihat dia sibuk mempersiapkan blender.
“Wah….Minggu pagi gini emang asek bikin jus. Perlu es batu gak?” tanyaku mencoba merayunya agar mendapat bagian.
“Nggak usah. Aku mau bikinin ini buat adek manisku. Tapi, aku juga minta.” katanya mulai melancarkan aksinya. Kupegang kening kakakku, normal!!
“Nggak lagi sakit kan? Tumben baik banget, emang jus apa seh?” tanyaku tak sabar.
“WORTEL!!” katanya singkat.
TOENGNGNG!!!
Aku langsung gedhek-gedhek.
“Dikit aja kok. Segelas berdua aja.” katanya mencoba membujuk. Aku kembali hanya menggeleng-gelengkan kepalaku.
“Ya udah deh, setengah gelas berdua.” katanya memulai tawar menawar.
“Tapi…….. kalo aku nggak doyan gak boleh dipaksa yah.” kataku memelas.
Akhirnya kamipun membuat ‘setengah gelas berdua’ jus dengan bahan utama musuhku, sayur berwarna orange.
Tak berapa lama jus ala Mbak Dyah dan aku telah tersaji di meja. Mbak Dyah menyuruhku meminumnya. Aku menggeleng dan berbalik menyuruhnya memulai. Mbah Dyah memulai atraksinya dengan meminum setengah dari setengah gelas alias seperempat gelas jus wortel itu dan menyerahkan seperempatnya padaku. Kudekatkan gelas ke mulutku, terciumlah bau anyir sang wortel. Perutku kembali terasa mulas. Dalam dua tegukan saja kepalaku terasa pusing bukan main. Keringat dingin mengucur di tubuhku. Seharian aku hanya mampu berbaring di kamar dengan terus memegangi kepalaku.
Ketika paginya aku kembali sehat, ayah, ibu, Mbak Mega dan Mbak Dyah hanya tertawa melihatku.

***

Suatu hari, dalam sebuah worksho yang diikuti oleh anak-anak berseragam putih abu-abu sepertiku, kudengar seorang penulis merumuskan tentang AMBAK, Apa Manfaatnya BagiKu? Aku mencoba merenungkan kembali di rumah. Kutuliskan besar-besar manfaat apa yang dapat kuambil dari sekedar makan wortel dalam secarik kertas. Kubaca lagi dan kutempelkan di dinding biru kamarku. Lama-lama akupun tergerak untuk mencoba sekejap saja melupakan pengalaman pahitku bersama jus wortel. Kalau aku makan wortel, kata orang bisa mencegah dan mempertahankan minusku agar tak bertambah. Yang pasti, dengan makan wortel aku akan mendapat asupan gizi. Lalu….yang paling membuatku bersemangat, aku bakalan punya prestasi. Seperti kata guruku di SMK, bahwa sebuah prestasi tidak harus diraih dari ranking di kelas atau berbagai tropi yang kuterima. Ya, bisa memakan dan menyukai wortel yang selama ini kubenci adalah sebuah prestasi. Prestasi yang perlu kuacungi jempol, telunjuk, jari tengah, jeri manis dan kelingking. Sebuah prestasi yang ‘BESAR’.
Sayang, untuk mencapai prestasi itu bukanlah hal yang mudah. Setiap kali aku mencoba memakan wortel mentah, satu gigitan kecil saja terasa tidak enak di perutku. Ketika kupaksakan untuk makin banyak menggigitnya, wortel itu terasa tersekat di kerongkonganku, siap meluncur kembali seperti rudal.
Kucoba beberapa saran teman. Ada yang mengusulkan untuk dibuat jus. Jelas kutolak!!! Aku tidak menginginkan kejadian ketika SMP terulang kembali. Ada juga yang mengusulkan agar aku memakan mentah. Aku sudah melakukannya dan gagal. Lalu ada yang mengusulkan agar aku membuat ‘jus manual’ saja. Aku agak heran mendengar istilah itu. Ternyata jus manual adalah sebutan yang temanku berikan untuk wortel yang diparut dan diperas. Tepatnya, sari wortel. Katanya itu lebih alami dan rasanya berbeda dengan jus blender-an. Kucoba membuatnya dengan menambahkan gula dan kuaduk-aduk. Kucoba meminumnya sedikit, tapi rasanya tetap sama. Efek pusingnya masih saja terasa di kepalaku. Untung saja aku tidak menenggaknya hingga habis. kalau tidak, bisa-bisa aku harus dilarikan ke dokter atau rumah sakit terdekat karena disangka alergi wortel.
Suatu hari Mbak Mega datang ke rumah bersama Sofyan, anak pertamanya. Anak berumur 2,5 tahun itu adalah buah pwerkawinannya dengan Mas Anton. Karena kangen dengan masakan Mbak Mega, hari itu kami memberlakukan ‘wajib masak’ bagi Mbak Mwega. Karena putranya yang terus mengganggu dan tidak mau diajak bermain, alhasil masakan Mbak Megapun lodrok alias terlalu matang. Hilang sudah keinginan seisi rumah untuk menikmati sup ala Mbak Mega. Yang ada malah mega mendung dari wajah-wajah cemberut ayah, ibu dan Mbak Dyah.
Aku yang baru saja pulang dari sekolah setelah mengikuti ekstrakurikuler bola voli langsung menyambar tudung makan setelah menyandarkan tasku di kursi ruang makan. Saat kulihat wortel dalam sup ayam, seleraku mulai berkerut-kerut seiring kerutan usus di dalam perutku. Seketika itu pula aku teringat akan ‘prestasi’. Aku mencoba mengencangkan kembali seleraku dan melahap wortel yang ada. Aku sudah siap nyengir-nyengir merasakan anyirnya si wortel. Tapi……..kok……..nggak ada rasanya? Akhirnya sejak hari itu aku sadar bahwa kuncinya ada pada…..terlalu matang. Dan sejak itu pula, setiap makanan yang mengandunng wortel harus dimasak secara ‘terlalu matang’. Sedikit demi sedikit kucoba memakan wortel dengan kematangan normal. Ternyata….layaknya suatu keterampilan yang makin diasah makin terampil, makin banyak aku makan wortel, makin nggak kerasa anyirnya. Kucoba memakan risoles, pastel, …..lama-lama kucoba pula memakan wortel mentah. Akhirnya aku lancar-lancar saja memakan wortel dan rasa mulas di perutku hilang saat berhadapan dengannya, termasuk dalam bentuk jus blender ataupun manual. Semua kulahap. Prestasi itu akhirnya dapat kucapai juga.

***

“Bu, beliin daun bawang sama seledri, yah.” teriakku saat melihat ibu akan pergi ke pasar.
“Buat apa? Bukannya kamu nggak doyan?” sahut ibu kemudian.
“Aku kan mau belajar makan, Bu.” kataku teriring sebuah senyum kecil dari bibir ibu.


Yogyakarta, 6 Maret 2005
hand_shaoran